Kamis, 31 Oktober 2013

Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dalam Keperawatan

Posted by Khoirul Zed | 19.17 Categories:
TUGAS 2

1.    PENDAHULUAN
Pada keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 647/MENKES/SK/IV/2000 tentang ketentuan umum pada Bab I Pasal 1 yaitu : “Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Dengan demikian perawat memiliki peranan dan fungsi dalam melaksanakan profesinya yang secara aktif dalam mendidik dan melatih pasien dalam kemandirian untuk hidup sehat ditinjau dari segi ediologi pancasila. Ideologi Pancasila pada hakikatnya merupakan sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, keyakinan dan nilai bangsa Indonesia yang secara normatif perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyakat, berbangsa dan bernegara, namun kesadaran masyarakat akan ideologi bangsa itu bertingkat. Hal ini berarti bahwa kesadaran ideologi masyarakat berjalan dalam proses dan mengenal tahapan dalam intensitasnya. Oleh karena itu peranan perawat khususnya perawat profesional sangat erat kaitannya dengan pendidikan pancasila khususnya etika nilai-nilai pengembangan profesinya dari efek pendidikan pancasila itu sendiri. Maka peranan perawat sangat menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab untuk memelihara dan mengelola asuhan keperawatan serta mengembangkan diri dalam meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan keperawatan.

2.      RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud :
1.    Ontology keperawatan
2.    Epistomologi keperawatan
3.    Aksiologi keperawatan
Ditinjau dari falsafah pancasila ?
3.      PEMBAHASAN
1.    Ontologi
a.    Pengertian Ontologi
Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahan ilmu. Berdasarkan objek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris, karena objeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berlainan dengan agama atau bentuk-bentuk pengetahuan yang lain, ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian-kejadian yang empiris, selalu berorientasi terhadap dunia empiris.
b.    Ontologi Pancasila
Secara ontologis kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Menurut Notonagoro hakikat dasar ontologis Pancasila adalah manusia. Mengapa?, karena manusia merupakan subjek hukum pokok dari sila-sila Pancasila. Hal ini dapat dijelaskan bahwa yang berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusian yang adil dan beradab, berkesatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pada hakikatnya adalah manusia (Kaelan, 2005).
c.    Ontologi Keperawatan
Jawaban pertanyaan ontologi tentang keperawatan berdasarkan pancasila dapat didefinisikan dalam beberapa pendapat. Calilista roy (1976) mendefinisikan bahwa keperawatan merupakan definisi ilmiah yang berorientasi kepada praktik keperawatan yang memiliki sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien. Sedangkan florence nightingale (1895) mendefinisikan keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah menempatkan pasien dalam kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ontology keperawatan adalah upaya pemberian pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan expert, holistic berdasarkan ilmu dan kiat, serta standart pelayanan dengan berpegang teguh kepada kode etik yang melandasi perawat expert secara mandiri atau melalui upaya kolaborasi. Kode etik disini tentunya sesuai dengan pancasila dan tidak menyimpang dari pancasila.
Objek yang menjadi kajian keperawatan adalah manusia, dalam hal ini adalah pasien. Pasien atau pesakit adalah seseorang yang menerima perawatan medis. Sering kali, pasien menderita penyakit atau cedera dan memerlukan bantuan dokter untuk memulihkannya. Keperawatan memiliki cara pandang pada respon manusia terhadap masalah kesehatan dalam memenuhi kebutuhasn dasarnya. Bantuan perawat diberikan kepada keadaan individu, kelompok, atau masyarakat yang tidak mampu berfungsi secara sempurna dalam masalah kesehatan dan proses penyembuhannya. Jadi pasien, penyakit dan proses perawatan merupakan objek kajian keperawatan sedangkan subjeknya adalah perawat.
2.    Epistomologi
a.    Pengertian Epistomologi
Epistimologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistimologi adalah suatu teori pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan, sah disebut keilmuan. Kata-kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut syarat keilmuan yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran diatas segala-segalanya (Jujun S. Suriasumantri, 1991, hal 9).
b.    Epistemologi Pancasila
Epistemologi Pancasila adalah epistemology yang prinsip-prinsipnya secara intuitif didasarkan kepada ideology Pancasila. Dengan kata lain prinsip epistemology yang diambil dan di gali dari bangsa Indonesia sendiri. atau nilai-nilai pancasila yang di telaah dari sudut pandang epistemology.
c.    Epistomologi Keperawatan.
Jawaban pertanyaan epistemologi tentang bagaimana lahirnya ilmu keperawatan berkaitan dengan kehidupan dahulu. Secara naluriah keperawatan lahir bersamaan dengan penciptaan manusia. Orang-orang pada zaman dahulu hidup dalam keadaan original. Namun demikian mereka sudah mampu memiliki sedikit pengetahuan dan kecakapan dalam merawat atau mengobati. Perkembangan keperawatan dipengaruhi oleh semakin majunya peradaban manusia maka semakin berkembang keperawatan. Pekerjaan “merawat” dikerjakan berdasarkan naluri (instink) “mother instinct” (naluri keibuan) yang merupakan suatu naluri yang bersendi pada pemeliharaan jenis (melindungi anak, dan merawat orang lemah). Diawali oleh seorang Florence Nightingale yang mengamati fenomena bahwa pasien yang dirawat dengan keadaan lingkungan yang bersih ternyata lebih cepat sembuh dibanding pasien yang dirawat dalam kondisi lingkungan yang kotor. Hal ini membuahkan kesimpulan bahwa perawatan lingkungan berperan dalam keberhasilan perawatan pasien yang kemudian menjadi paradigma keperawatan berdasarkan lingkungan. Sehingga semenjak itu banyak pemikiran baru yang didasari dengan berbagai tehnik untuk mendapatan kebenaran baik dengan cara Revelasi (pengalaman pribadi), otoritas dari seorang yang ahli, intuisi (diluar kesadaran),dump common sense (pengalaman tidak sengaja), dan penggunaan metode ilmiah dengan penelitian-peneltian dalam bidang keperawatan. Misalnya Peplau (1952) menemukan  teori interpersonal sebagai dasar perawatan. Orlando (1961) menemukan teori komunikasi sebagai dasar perawatan. Roy (1970) menemukan teori adaptasi sebagai dasar perawatan. Johnson (1961) menemukan stabilitas sebagai tujuan perawatan dan Rogers (1970) menemukan konsep manusia yang unik.
Keperawatan memiliki bahasan yang disusun secara sistematis dan menggunakan metode ilmiah dimana asuhan keperawatan pada manusia ditunjukan kepada bagian yang tidak dapat berfungsi secara sempurna yang berkaitan dengan kondisi kesehatn itu sendiri dan manusia sebagai mahluk yang utuh dan unik. Keperawatan dikatakan sebagai ilmu karena keperawatan memilki landasan ilmu pengetahuan yang ilmiah yaitu scientific nursing karena ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan selalu berkembang. Contoh: Pada perkembangannya, ilmu keperwatan selalu mengikuti perkembangan ilmu lain. Mengingat ilmlu keperawatan merupakan ilmu terapan yang selalau berubah menurut tunutnan zaman. Sebagi ilmu yang mulai berkembang ilmu keperawatan, banyak mendapakatkan tekanan diantaranya tekanan dari luar dan tekanan dari dalam, sebagi contoh, tekanan dari luar yang berpengaruh pada perkembangan ilmu keperawatan adalah adanya tuntunan kebutuhan masayrakat dan industri kesehatan dan tekanan dari dalam yaitu masalah keperawatan yang secara terus menrus ada dan selalu memerluakan jawaban.
3.    Aksiologi
a.    Pengertian Aksiologi
Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Tidak dapat dipungkiri bahawa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam menegndalikan kekuatan-kekuatan alam. Dengan mempelajari atom kita dapat memanfaatkannya untuk sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom akan meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan akan mengancam keselamatan umat manusia.

b.    Aksiologi Pancasila
Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada hakikatnya membahas tentang nilai praksis atau manfaat suatu pengetahuan tentang Pancasila. Karena sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki satu kesatuan dasar aksiologis, maka nilai-nilai yang terkandung dalamnya pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan.
Selanjutnya, aksiologi Pancasila mengandung arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai Pancasila. Istilah nilai dalam kajian filsafat dipakai untuk merujuk pada ungkapan abstrak yang dapat juga diartikan sebagai “keberhargaan“  (worth) atau “kebaikan” (goodnes), dan kata kerja yang artinya sesuatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian (Frankena: 229).
Menurut Notonagoro, nilai-nilai Pancasila itu termasuk nilai kerohanian, tetapi nilai-nilai kerohanian yang mengakui nilai material dan nilai vital. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila yang tergolong nilai kerohanian itu juga mengandung nilai-nilai lain secara lengkap dan harmonis, seperti nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan atau estetis, nilai kebaikan atau nilai moral, ataupun nilai kesucian yang secara keseluruhan bersifat sistemikhierarkis. Sehubungan dengan ini, sila pertama, yaitu ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari semua sila-sila Pancasila (Darmodihardjo: 1978). Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila (subcriber of values Pancasila). Bangsa Indonesia yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan, dan yang berkeadilan sosial. Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesialah yang menghargai, mengakui, serta menerima Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai.
c.    Aksiologi Keperawatan
Jawaban pertanyaan aksiologi, dapat dijelaskan bahwa ilmu keperawatan digunakan sebagai ilmu, pedoman, dan dasar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan berbagai tingkatan dari individu, keluarga, kelompok bahkan sampai masyarakat luas guna meningkatkan derajat kesehatan pasien tersebut. Sehingga bisa merubah kondisi seseorang atau sekelompok orang dari kondisi sakit menjadi sembuh dan yang sudah sehat dapat mempertahankan atau mengoptimalkan derajat kesehatannya.
Hakekat manusia sebagai makhluk biopsikososio dan spritual, pada hakekatnya keperawatan merupakan suatu ilmu dan kiat, profesi yang berorientasi pada pelayanan, memiliki tingkat klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) serta pelayanan yang mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Pelayanan dengan menerapkan kebutuhan pasien sebagai makhluk biopsikososio dan spiritual merupakan implikasi dari perawat menjalankan tugas sebagai perawat yang professional berdasarkan pancasila. Penerapan ini tentunya tidak lepas dari kode etik keperawatan. Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan. Inti dari hal tersebut, yaitu menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Kode etik keperawatan Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia, melalui Munas PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
Seorang perawat harus mempunyai prinsip-prinsip moral, tetapi prinsip moral itu bukan sebagai suatu peraturan konkret untuk bertindak, namun sebagai suatu pedoman umum untuk memilih apakah tindakan-tindakan yang dilakukan perawat itu benar atau salah.
Beberapa kategori prinsip moral diantaranya :
-Kebijakan ( dan realisasi diri )
-Kesejahteraan orang lain
-Penghormatan terhadap otoritas
-Kemasyarakatan / pribadi-pribadi
-Dan keadilan
Seorang perawat harus mempunyai rasa kemanusiaan dan moralitas yang tinggi terhadap sesama. Karena dengan begitu, antara perawat dan pasien akan terjalin hubungan yang baik. Perawat akan merasakan kepuasan batin, bila ia mampu membantu penyembuhan pasien dan si pasien sendiri merasa puas atas pelayanan perawatan yang diberikan, dengan kata lain terjadi interaksi antara perawat dan pasien.
             Selain prinsip-prinsip moralitas yang dikemukakan diatas, ajaran moralitas dapat juga berdasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila, misalnya dalam sila I dan sila II.
1. Sila I ( Ketuhanan Yang Maha Esa )
     Bahwa kita menyakini akan adanya Tuhan ( Allah SWT ), yang akan selalu mengawasi segala tindakan-tindakan kita. Begitu juga dengan perawat. Bila perawat melakukan Malpraktik, mungkin ia bias lolos dari hukuman dunia. Tetapi hokum Tuhan sudah menanti disana ( akhirat ). Jadi perawat harus mampu menjaga perilaku dengan baik, merawat pasien sebagai mana mestinya.
2. Sila II ( Kemanusiaan Yang adil dan Beradap )
     Disini jelas bahwa moralitas berperan penting, khususnya moralitas perawat dalam menangani pasien. Perawat harus mampu bersikap adil dalam menghadapi pasien, baik itu kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, semua diperlakukan sama, dirawat sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.


4.    REFERENSI


Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dalam Keperawatan

Posted by Khoirul Zed | 19.17 Categories:
TUGAS 2

1.    PENDAHULUAN
Pada keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 647/MENKES/SK/IV/2000 tentang ketentuan umum pada Bab I Pasal 1 yaitu : “Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Dengan demikian perawat memiliki peranan dan fungsi dalam melaksanakan profesinya yang secara aktif dalam mendidik dan melatih pasien dalam kemandirian untuk hidup sehat ditinjau dari segi ediologi pancasila. Ideologi Pancasila pada hakikatnya merupakan sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, keyakinan dan nilai bangsa Indonesia yang secara normatif perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyakat, berbangsa dan bernegara, namun kesadaran masyarakat akan ideologi bangsa itu bertingkat. Hal ini berarti bahwa kesadaran ideologi masyarakat berjalan dalam proses dan mengenal tahapan dalam intensitasnya. Oleh karena itu peranan perawat khususnya perawat profesional sangat erat kaitannya dengan pendidikan pancasila khususnya etika nilai-nilai pengembangan profesinya dari efek pendidikan pancasila itu sendiri. Maka peranan perawat sangat menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab untuk memelihara dan mengelola asuhan keperawatan serta mengembangkan diri dalam meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan keperawatan.

2.      RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud :
1.    Ontology keperawatan
2.    Epistomologi keperawatan
3.    Aksiologi keperawatan
Ditinjau dari falsafah pancasila ?
3.      PEMBAHASAN
1.    Ontologi
a.    Pengertian Ontologi
Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahan ilmu. Berdasarkan objek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris, karena objeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berlainan dengan agama atau bentuk-bentuk pengetahuan yang lain, ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian-kejadian yang empiris, selalu berorientasi terhadap dunia empiris.
b.    Ontologi Pancasila
Secara ontologis kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Menurut Notonagoro hakikat dasar ontologis Pancasila adalah manusia. Mengapa?, karena manusia merupakan subjek hukum pokok dari sila-sila Pancasila. Hal ini dapat dijelaskan bahwa yang berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusian yang adil dan beradab, berkesatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pada hakikatnya adalah manusia (Kaelan, 2005).
c.    Ontologi Keperawatan
Jawaban pertanyaan ontologi tentang keperawatan berdasarkan pancasila dapat didefinisikan dalam beberapa pendapat. Calilista roy (1976) mendefinisikan bahwa keperawatan merupakan definisi ilmiah yang berorientasi kepada praktik keperawatan yang memiliki sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien. Sedangkan florence nightingale (1895) mendefinisikan keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah menempatkan pasien dalam kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ontology keperawatan adalah upaya pemberian pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan expert, holistic berdasarkan ilmu dan kiat, serta standart pelayanan dengan berpegang teguh kepada kode etik yang melandasi perawat expert secara mandiri atau melalui upaya kolaborasi. Kode etik disini tentunya sesuai dengan pancasila dan tidak menyimpang dari pancasila.
Objek yang menjadi kajian keperawatan adalah manusia, dalam hal ini adalah pasien. Pasien atau pesakit adalah seseorang yang menerima perawatan medis. Sering kali, pasien menderita penyakit atau cedera dan memerlukan bantuan dokter untuk memulihkannya. Keperawatan memiliki cara pandang pada respon manusia terhadap masalah kesehatan dalam memenuhi kebutuhasn dasarnya. Bantuan perawat diberikan kepada keadaan individu, kelompok, atau masyarakat yang tidak mampu berfungsi secara sempurna dalam masalah kesehatan dan proses penyembuhannya. Jadi pasien, penyakit dan proses perawatan merupakan objek kajian keperawatan sedangkan subjeknya adalah perawat.
2.    Epistomologi
a.    Pengertian Epistomologi
Epistimologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistimologi adalah suatu teori pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan, sah disebut keilmuan. Kata-kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut syarat keilmuan yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran diatas segala-segalanya (Jujun S. Suriasumantri, 1991, hal 9).
b.    Epistemologi Pancasila
Epistemologi Pancasila adalah epistemology yang prinsip-prinsipnya secara intuitif didasarkan kepada ideology Pancasila. Dengan kata lain prinsip epistemology yang diambil dan di gali dari bangsa Indonesia sendiri. atau nilai-nilai pancasila yang di telaah dari sudut pandang epistemology.
c.    Epistomologi Keperawatan.
Jawaban pertanyaan epistemologi tentang bagaimana lahirnya ilmu keperawatan berkaitan dengan kehidupan dahulu. Secara naluriah keperawatan lahir bersamaan dengan penciptaan manusia. Orang-orang pada zaman dahulu hidup dalam keadaan original. Namun demikian mereka sudah mampu memiliki sedikit pengetahuan dan kecakapan dalam merawat atau mengobati. Perkembangan keperawatan dipengaruhi oleh semakin majunya peradaban manusia maka semakin berkembang keperawatan. Pekerjaan “merawat” dikerjakan berdasarkan naluri (instink) “mother instinct” (naluri keibuan) yang merupakan suatu naluri yang bersendi pada pemeliharaan jenis (melindungi anak, dan merawat orang lemah). Diawali oleh seorang Florence Nightingale yang mengamati fenomena bahwa pasien yang dirawat dengan keadaan lingkungan yang bersih ternyata lebih cepat sembuh dibanding pasien yang dirawat dalam kondisi lingkungan yang kotor. Hal ini membuahkan kesimpulan bahwa perawatan lingkungan berperan dalam keberhasilan perawatan pasien yang kemudian menjadi paradigma keperawatan berdasarkan lingkungan. Sehingga semenjak itu banyak pemikiran baru yang didasari dengan berbagai tehnik untuk mendapatan kebenaran baik dengan cara Revelasi (pengalaman pribadi), otoritas dari seorang yang ahli, intuisi (diluar kesadaran),dump common sense (pengalaman tidak sengaja), dan penggunaan metode ilmiah dengan penelitian-peneltian dalam bidang keperawatan. Misalnya Peplau (1952) menemukan  teori interpersonal sebagai dasar perawatan. Orlando (1961) menemukan teori komunikasi sebagai dasar perawatan. Roy (1970) menemukan teori adaptasi sebagai dasar perawatan. Johnson (1961) menemukan stabilitas sebagai tujuan perawatan dan Rogers (1970) menemukan konsep manusia yang unik.
Keperawatan memiliki bahasan yang disusun secara sistematis dan menggunakan metode ilmiah dimana asuhan keperawatan pada manusia ditunjukan kepada bagian yang tidak dapat berfungsi secara sempurna yang berkaitan dengan kondisi kesehatn itu sendiri dan manusia sebagai mahluk yang utuh dan unik. Keperawatan dikatakan sebagai ilmu karena keperawatan memilki landasan ilmu pengetahuan yang ilmiah yaitu scientific nursing karena ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan selalu berkembang. Contoh: Pada perkembangannya, ilmu keperwatan selalu mengikuti perkembangan ilmu lain. Mengingat ilmlu keperawatan merupakan ilmu terapan yang selalau berubah menurut tunutnan zaman. Sebagi ilmu yang mulai berkembang ilmu keperawatan, banyak mendapakatkan tekanan diantaranya tekanan dari luar dan tekanan dari dalam, sebagi contoh, tekanan dari luar yang berpengaruh pada perkembangan ilmu keperawatan adalah adanya tuntunan kebutuhan masayrakat dan industri kesehatan dan tekanan dari dalam yaitu masalah keperawatan yang secara terus menrus ada dan selalu memerluakan jawaban.
3.    Aksiologi
a.    Pengertian Aksiologi
Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Tidak dapat dipungkiri bahawa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam menegndalikan kekuatan-kekuatan alam. Dengan mempelajari atom kita dapat memanfaatkannya untuk sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom akan meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan akan mengancam keselamatan umat manusia.

b.    Aksiologi Pancasila
Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada hakikatnya membahas tentang nilai praksis atau manfaat suatu pengetahuan tentang Pancasila. Karena sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki satu kesatuan dasar aksiologis, maka nilai-nilai yang terkandung dalamnya pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan.
Selanjutnya, aksiologi Pancasila mengandung arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai Pancasila. Istilah nilai dalam kajian filsafat dipakai untuk merujuk pada ungkapan abstrak yang dapat juga diartikan sebagai “keberhargaan“  (worth) atau “kebaikan” (goodnes), dan kata kerja yang artinya sesuatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian (Frankena: 229).
Menurut Notonagoro, nilai-nilai Pancasila itu termasuk nilai kerohanian, tetapi nilai-nilai kerohanian yang mengakui nilai material dan nilai vital. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila yang tergolong nilai kerohanian itu juga mengandung nilai-nilai lain secara lengkap dan harmonis, seperti nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan atau estetis, nilai kebaikan atau nilai moral, ataupun nilai kesucian yang secara keseluruhan bersifat sistemikhierarkis. Sehubungan dengan ini, sila pertama, yaitu ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari semua sila-sila Pancasila (Darmodihardjo: 1978). Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila (subcriber of values Pancasila). Bangsa Indonesia yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan, dan yang berkeadilan sosial. Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesialah yang menghargai, mengakui, serta menerima Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai.
c.    Aksiologi Keperawatan
Jawaban pertanyaan aksiologi, dapat dijelaskan bahwa ilmu keperawatan digunakan sebagai ilmu, pedoman, dan dasar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan berbagai tingkatan dari individu, keluarga, kelompok bahkan sampai masyarakat luas guna meningkatkan derajat kesehatan pasien tersebut. Sehingga bisa merubah kondisi seseorang atau sekelompok orang dari kondisi sakit menjadi sembuh dan yang sudah sehat dapat mempertahankan atau mengoptimalkan derajat kesehatannya.
Hakekat manusia sebagai makhluk biopsikososio dan spritual, pada hakekatnya keperawatan merupakan suatu ilmu dan kiat, profesi yang berorientasi pada pelayanan, memiliki tingkat klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) serta pelayanan yang mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Pelayanan dengan menerapkan kebutuhan pasien sebagai makhluk biopsikososio dan spiritual merupakan implikasi dari perawat menjalankan tugas sebagai perawat yang professional berdasarkan pancasila. Penerapan ini tentunya tidak lepas dari kode etik keperawatan. Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan. Inti dari hal tersebut, yaitu menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Kode etik keperawatan Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia, melalui Munas PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
Seorang perawat harus mempunyai prinsip-prinsip moral, tetapi prinsip moral itu bukan sebagai suatu peraturan konkret untuk bertindak, namun sebagai suatu pedoman umum untuk memilih apakah tindakan-tindakan yang dilakukan perawat itu benar atau salah.
Beberapa kategori prinsip moral diantaranya :
-Kebijakan ( dan realisasi diri )
-Kesejahteraan orang lain
-Penghormatan terhadap otoritas
-Kemasyarakatan / pribadi-pribadi
-Dan keadilan
Seorang perawat harus mempunyai rasa kemanusiaan dan moralitas yang tinggi terhadap sesama. Karena dengan begitu, antara perawat dan pasien akan terjalin hubungan yang baik. Perawat akan merasakan kepuasan batin, bila ia mampu membantu penyembuhan pasien dan si pasien sendiri merasa puas atas pelayanan perawatan yang diberikan, dengan kata lain terjadi interaksi antara perawat dan pasien.
             Selain prinsip-prinsip moralitas yang dikemukakan diatas, ajaran moralitas dapat juga berdasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila, misalnya dalam sila I dan sila II.
1. Sila I ( Ketuhanan Yang Maha Esa )
     Bahwa kita menyakini akan adanya Tuhan ( Allah SWT ), yang akan selalu mengawasi segala tindakan-tindakan kita. Begitu juga dengan perawat. Bila perawat melakukan Malpraktik, mungkin ia bias lolos dari hukuman dunia. Tetapi hokum Tuhan sudah menanti disana ( akhirat ). Jadi perawat harus mampu menjaga perilaku dengan baik, merawat pasien sebagai mana mestinya.
2. Sila II ( Kemanusiaan Yang adil dan Beradap )
     Disini jelas bahwa moralitas berperan penting, khususnya moralitas perawat dalam menangani pasien. Perawat harus mampu bersikap adil dalam menghadapi pasien, baik itu kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, semua diperlakukan sama, dirawat sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.


4.    REFERENSI


Sabtu, 19 Oktober 2013

Aku Ingin Menjadi Yang Halal Bagimu

Posted by Khoirul Zed | 22.10 Categories:
Ya Rabb

aku berdoa untuk orang yang akan
menjadi bagian dari hidupku.. 
Ya Rabb 
Aku ingin menjadi yang halal baginya.. 
Yang dia kagumi ketika memandang.. 
Yang membuatnya tenang ketika ku bertutur.. 
Yang membuatnya bergetar ketika 
mendengar aku berdoa untuknya.. 
Menjadi wanita yang dia puja dan dia rindu.. 
Ya Rabb 
Aku berdoa untuk orang yang akan 
menjadi bagian dari hidupku.. 
Seseorang yang membutuhkan doaku 
untuk kehidupannya.. 
Seseorang yang sungguh mencintai- 
Mu lebih dari segala sesuatu.. 
Seseorang yang dengan segala 
ketulusan cintanya, 
Menyadarkanku akan segala nikmat-Mu.. 
buat aku dengan cintanya semakin 
mencintai-Mu Ya Allah.. 
Kuatkan tangan ini sehingga aku 
selalu mampu berdoa untuknya.. 
Panjangkan usiaku ini agar selalu 
senantiasa mendampinginya.. 
Dan bila pada akhirnya kami berdua 
menjadi satu, 
Dengan nama-Mu ku berharap, 
Kami berdua dapat mengatakan 
betapa maha besarnya Engkau 
karena telah memberikanku pasangan 
yang dapat membuat hidupku menjadi 
sempurna..

Selasa, 15 Oktober 2013

Kebutuhan Dasar Individu

Posted by Khoirul Zed | 07.23 Categories:

Kebutuhan dasar manusia adalah hal-hal seperti makanan, air, keamanan dan cinta yang merupakan hal yang paling penting untuk bertahan hidup dan kesehatan.walaupun setiap orang punya sifat tambahan, kebutuhan yang unik, setiap orang mempunyai kebutuhan dasar manusia yang sama. Besarnya kebutuhan dasar yang terpenuhi menentukan tingkat kesehatan dan posisi pada rentang sehat-sakit.
            Hiraiki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah sebuah teori yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antar kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan. Menurut teori ini kebutuhan manusia tertentu lebih dasar daripada kebutuhan lainnya; oleh karena itu, beberapa kebutuhan harus dipenuhi sebelum kebetuhan yang lain. Misalnya, orang yang lapar lebih akan lebih mencari makanan daripada melakukan aktivitas untuk meningkatkan harga diri.
            Hiraki kebutuhan dasar manusia mengatur kebutuhan dasar dalam lima tingkat prioritas (gambar 1). Tingkatan yang paling dasar atau yang pertama meliputi kebutuhan fisiologis seperti udara, air, dan makanan. Tingkatan yang kedua meliputi kebutuhan keselamatan dan keamanan, yang melibatkan keamanan fisik dan psikologis. Tingkatan yang ketiga mencakup kebutuhan cinta dan rasa memilki, termasuk persahabatan, hubungan social, dan cinta seksual. Tingkatan yang keempat meliputi kebutuhan rasa berharga dan harga diri, yang melibatkan percaya diri, merasa berguna, penerimaan, dan kepuasan diri. Tingkatan yang akhir adalah kebutuhan aktualisasi diri, pernyataan dari penerimaan yang penuh potensi dan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan mengatasinya dengan cara realistis dan berhubungan dengan situasi hidup.

1.KEBUTUHAN FISIOLOGIS
Kebutuhan fisiologis memiliki prioritas tertinggi dalam hiraki Maslow. Seorang individu yang memiliki beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi secara umum lebih dulu mencari pemenuhan kebutuhan fisiologis (Maslow, 1970). Misalnya, seseorang yang kekurangan makanan, keslematan, dan cinta biasanya mencari makanan sebelum mencari cinta. Kebutuhan fisiologis merupakan hal yang perlu atau penting untuk bertahan hidup. Manusia memiliki delapan macam kebutuhan: oksigen, cairan, nutrisi, temperature, eliminasi, tempat tinggal, istirahat, dan seks.
Klien yang sangat muda, sangat tua, miskin, sakit, dan cacat sering tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar fisiologis. Perawat sering mempunya peran dalam membantu pelayan memenuhi kebutuhan tersebut.

a.      Oksigen
Oksigen merupakan kebutuhan fisiologi manusia yang paling penting. Tubuh tergantung pada oksigen dari waktu ke waktu untuk bertahan hidup. Beberapa jaringan, seperti otot skelet, dapat bertahan beberapa waktu tanpa oksigen melalui metabolism anaerob, sebuah proses dimana jaringan ini menyediakan energy mereka sendiri tanpa adanya oksigen. Jaringan yang melakukan hanya metabolisme aerob, prosesnya membentuk energy dengan adanya oksigen, bergantung secara total pada oksigen untuk bertahan hidup.

b.      Cairan
Tubuh manusia membutuhkan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran cairan. Cairan dimasukan melalui mulut, atau secara parental, dan cairan meninggalkan tubuh dari saluran pencernaan, paru-paru, kulit, dan ginjal. Klien dari berbagai umur dapat mengalami kondisi tidak terppenuhinya kebutuhan cairan, tetapi manusia yang paling muda dan yang paling tua memilki resiko yang lebih besar. Penyakit parah, trauma, atau klien yang cacat juga lebih cenderung untuk mengalami kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan cairan.
            Dehidrasi dan edema mengindikasikan tidak terpenuhinya cairan. Dehidrasi mungkin karena demam berlebihan atau berkepanjangan, muntah, diare, trauma, atau beberapa kondisi yang menyebabkan kehilangan cairan dengan cepat. Edema juga diikuti oleh gangguan elektrolit dan bisa muncul pada gangguan nutrisi, kardiovaskuler, ginjal, kanker, traumatic, atau gangguan lain yang menyebabkan akumulasi cairan  dengan cepat.
            Pada saat pengkajian keperawatan menunjukan temuan konsisten ketidakseimbangan cairan, tindakan keperawatan diarahkan kepada perbaikan keseimbangan kearah normal.




c.       Nutrisi
Tubuh manusia memiliki kebutuhan esensial terhadap nutrisi, walaupun tubuh dapat bertahan tanpa makanan lebih lama daripada tanpa cairan. Seperti kebutuhan fisiologi lainnya, kebutuhan nutrisi mungkin tidak terpenuhi pada manusia dengan berbagai usia.
Proses metabolic tubuh mengontrol pencernaan, menyimpan zat makanan dan mengeluarkan produk sampah.mencerna dan menyimpan zat makanan adalah hal yang paling penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Kadang-kadang perawat membatu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi melalui pengajaran. Misalnya, seorang dewasa dengan gangguan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh  dan didiagnosis diabetes milletus tergantung insulin (IDDM) perlu diajarkan untuk menyeimbangkan kebutuhan nutrisi, pemasukan insulin dan kebiasaan berolahraga.Untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi mereka, seorang perawat harus mengerti proses pencernaan dan proses metabolic tubuh. Perawat bisa menggunakan nutrisi tambahan dan teknik untuk memperbaiki deficit nutrisional.


d.      Temperatur
Tubuh dapat berfungsi secara normal hanya dalam rentang temperature yang sempit, 37oC (98,6oF) ± 10C. temperature tubuh di luar rentang ini dapat menimbulkan kerusakan, efek yang permanen seperti kerusakan otak atau kematian.
Tubuh dapat secara sementara mengatur temperature melalui mekanisme tertentu. Misalnya seseorang menggigil ketika bergerak dari lingkungan yang hangat ke lingkungan dengan suhu 130C. rsppon adaptif dapat sementara meningkatkan suhu tubuh. Terpajan pada panas yang berkepanjangan meningkatkan aktivitas metabolic tubuh dan meningkatkan kebutuhan oksigen jaringan. Pemajanan pada panas yang lama dan berlebihan juga mempunyai efek fisiologis khusus.
e.      Eliminasi
Eliminasi materi sampah merupakan salah satu dari proses metabolic tubuh. Produk sampah dikeluarkan melalui paru-paru, kulit, ginjal dan pencernaan. Paru-paru secara primer mengeluarkan karbon dioksida, sebuah bentuk gas yang dibentuk selama metabolism pada jaringan.Ginjal merupakan bagian tubuh primer yang utama untuk mengekskresikan kelebihan cairan tubuh, elektrolit, ion-ion hydrogen dan asam. Usus mengeluarkan produk sampah yang padat dan berupa cairan dari tubuh.

f.        Tempat tinggal
Walaupun beberapa orang mempunyai beberapa jenis tempat tinggal, terkadang tempat tinggal tersebut dibawah standar dan tidak memberi perlindungan yang penuh . bencana alam seperti banjir, kebakaran, dan badai dapat menjadikan seluruh masyarakat menjadi tidak memiliki rumah. Pada saat melakukan pengkajian apakah klien dapat memenuhi kebutuhan tempat tinggal, perawat mengidentifikasi factor risiko penyakit atau kerusakan. Lingkungan yang kotor bisa menarik perhatian serangga dan bintang seperti tikus yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit.


g.      Istirahat
Setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar fisiologis untuk istirahat teratur. Jumlah kebutuhan istirahat bervariasi, bergantung pada kualitas tidur, status kesehatan, pola aktivitas, gaya hidup, dan umur seseorang. Klien sakit kronis membutuhkan istirahat lebih banyak disbanding orang yang sehat dengan umur yang sama. Sering pola istirahat mengalami perubahan karena penyakit atau rasa nyeri. Jika klien tidak dapat tidur karena factor lain seperti gaya hidup atau tekanan kronis, perawat memberikan perawatan langsung untulk memecahkan penyebabnya pada saat membantu memenuhi kebutuhan ini.

h.      Seks
Seks dianggap dianggap oleh Maslow (1970) sebagai kebutuhan dasar fisiologis yang secara umum mengambil prioritas di atas kebutuhan yang lebih tinggi. Profesi kesehatan memebrikan perhatian yang tinggi pada seksualitas manusia. Seksuaitas melibatkan lebih daripada seks fisik. Hal tersebut bisa melibatkan kebutuhan emosi, social, dan spiritual.Klien yang mengalami depresi, berkabung, atau perubahan garya hidup berisko tidak dapat memenuhi kebutuhan seksualnya. Untuk klien depresi berat,  kebutuhan seksual tidak terpenuhi dalam waktu lebih lama dan bisa diatasi hanya dengan konseling.





2.     KEBUTUHAN KESELAMATAN DAN RASA AMAN
Prioritas berikutnya setelah kebutuhan fisiologis klien adalah kebutuhan keselamatan dan keamanan fisik serta psikologis.

a.      Keselamatan Fisik
Bayi memasuki dunia secara penuh bergantung pada orang lain untuk kebutuhan dan keselamatan fisik. Pada saat bayi bertumbuh dan berkembang, kemandirian yang lebih besar secara bertahap dicapai. Orang dewasa secara umum mampu memberikan keselamatan fisik mereka, tetapi yang sakit dan cacat mungkin membutuhkan bantuan. Mempertahankan kebutuhan fisik melibatkan keadaan mengurangi atau mengeluarkan ancaman pada tubuh atau kehidupan. Memenuhi kebutuhan keselamatan fisik kadang mengambil prioritas lebih dahulu di atas pemenuhan kebutuhan fisiologis.

b.      Keselamatan psikologis
Untuk kelesamatan dan aman secara psikologis, seorang manusia harus memahami apa yang diharpka dari orang lain, termasuk anggota keluarga dan professional pemberi perawatan kesehatan. Seseorang juga harus mengetahui apa yang diharapkan prosedur, pengalaman yang baru, dan hal-hal yang dijumpai dalam lingukan.
Orang dewasa yang sehat secara umum mampu memenuhi kebutuhan keselamatan fisik dan psikologis mereka tanpa bantuan dari professional pemberi perawatan kesehatan. Bagaimanapun orang yang sakit atau cacat lebih rentan untuk terancam kesejahteraan fisik dan emosinya, sehingga intervensi yang dilakukan perawat adalah untuk membantu melindungi mereka dari bahaya.

3.   KEBUTUHAN CINTA DAN RASA MEMILIKI
Prioritas selanjutnya adalah kebutuhan keselamatan dan keamanan adalah kebutuhan terhadap cinta dan rasa memiliki. Manusia secara umum membutuhkan perasaan bahwa mereka dicintai oleh keluarga mereka dan mereka diterima oleh teman sebaya oleh masyarakat. Kebutuhan ini secara umum meningkat setelah kebutuhan fisiologis dan keselamatan terpenuhi karena hanyak pada saat individu merasa selamat dan aman, mereka mempunyai waktu dan energy untuk mencari cinta dan rasa memiliki dan untuk membagi cnta tersebut dengan orang lain. Bahkan seseorang yang secara umum mampu memenuhi kebutuhan cinta dan rasa memiliki, sering tidak mampu memenuhi kebutuhan cinta dan rasa memiliki, sering tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka tersebut pada saat sakit atau terluka. Akhirnya, perawat bekerja dengan klien dan keluarga untuk menyesuaikan rencana perawatan untuk membantu klien memenuhi kebutuhan mereka terhadap cinta dan rasa memiliki. Lebih banyak klien yang terlibat aktif dalam pengembangan rencana keperawatan dan lebih banyak control yang mereka miliki terhadap lingkungan pada saat menerima perawatan, lebih mudah hal tersebut bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan ini.


4.   KEBUTUHAN PENGHARGAAN DAN HARGA DIRI
Manusia memerlukan perasaan stabil terhadap harga diri maupun perasaan bahwa mereka dihargai oleh orang lain. Kebutuhan harga diri berhubungan dengan keinginan terhadap kekuatan, pencapaian, rasa cukup, kompetensi, rasa percaya diri, dan kemerdekaan. Jika kebutuhan harga diri dan penghargaan dari orang lain tidak terpenuhi, orang tersebut mungkin merasa tidak berdaya dan merasa rendah diri. (Maslow, 1970)
Jika konsep diri klien mengalami perubahan karena penyakit atau cidera, pemberian keperawatan melibatkan konsep diri dan gambaran diri. Tindakan perawatan spesifik bergantung pada system dukungan dan kepribadian klien, penyebab dari gangguan konsep diri dan sumber yang tersedia. Jika tngkat harga diri klien sangat rendah berarti mereka gagal untuk merawat diri mereka sendiri, perawat mungkin harus membantu memenuhi kebutuhan lain, seperti kebutuhan nutrisi dan keselamatan, sementara juga mengambil langkah untuk meningkatkan harga diri klien.

5.      KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI
Aktualisasi diri merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi dalam hiraiki kebuthan manusia menurut Maslow. Menurut teori, pada saat manusia sudah memenuhi seluruh kebutuhan pada tingkatan yang lebih rendah, hal tersebut dalam aktualisasi diri disebutkan bahwa mereka mendapat potensi mereka yang paling maksimal (Malsow, 1970).
            Manusia yang teraktualisasi dirinya memiliki kepribadian multidimensi yang matang. Mereka sering mampu untuk mengasumsi dan menyelesaikan tugas yang banyak, dan mereka mencapai pemenuhan kepuasan dari pekerjaan yang dikerjakan dengan baik.aktualisasi diri mungkin terjadi pada saat ada keseimbangan antara kebutuhan klien, tekanan dan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan tubuh dan lingkungan.

            Kebutuhan privasi klien harus dipenuhi. Ketika dalam keadaan sehat, individu yang teraktualisasi dirinya biasanya mempuanyai kebutuhan yang kuat terhadap perubahan tubuh lingkungan. Perawat dapat membantu memenuhi kebutuhan ini dengan merencanakan perawatan sehingga privasi tidak terganggu. 

Referensi : Potter & Perry, 2005. Buku ajar fundamental keperawatan, edisi 4 volume 1,Penerbit Buku Kedokteran halaman 612-616.

Selasa, 01 Oktober 2013

Karakteristik Berpikir Kritis

Posted by Khoirul Zed | 07.17 Categories:

Berikut ini adalah karakteristik berpikir kritis dan penjabarannya :
1.       Konseptualisasi
Konseptualisasi artinya proses intelktual membentuk suatu konsep. Sedangkan konsep adalah fenomena atau  pandangan mental tentang realitas, pikiran-pikiran tentang kejadian, obyek, atribut, dan sejenisnya. Dengan demikian, konseptualisasi merupakan pikiran abstrak yang digeneralisasi secara otomatis menjadi simbol-simbol dan disimpan dalam otak.
2.       Rasional dan beralasan (reasonable)
Artinya argumen yang diberikan selalu berdasarkan analisis dan mempunyai dasar kuat dari fakta atau fenomena nyata.
3.       Reflektif
Artinya bahwa seorang pemikir kritis tidak menggunakan asumsi atau persepsi dalam berpikir atau mengambil keputusan, tetapi akan menyediakan waktu untuk mengumpulkan data dan menganalisisnya berdasarkan disiplin ilmu, fakta dan kejadian.
4.       Bagian dari suatu sikap
Yaitu pemahaman dari suatu sikap yang harus diambil. Pemikir kritis akan selalu menguji apakah sesuatu yang dihadapi itu lebih baik atau lebih buruk dibanding yang lain, dengan menjawab pertanyaan mengapa bisa begitu dan bagaimana seharusnya.
5.       Kemandirian berpikir
Seorang pemikir kritis selalu berpikir dalam dirinya, tidak pasif menerima pemikiran dan keyakinan orang lain, menganalisis semua isu, memutuskan secara bnar, dan dapat dipercaya.
6.       Berpikir kritis adalah berpikir kreatif
Secara tradisional, profesi perawatan dan pendidikan keperawatan termasuk kurang kreatif. Namun, saat ini telah ada perubahan untuk membuat seorang perawat kreatif, yaitu selalu menggunakan keterampilan intelektualnya untuk mencipta berdasarkan suatu pemikiran yang baru dan dihasilkan dari sintesis beberapa konsep.
7.       Berpikir adil dan terbuka
Yaitu mencoba untuk berubah, dari pemikiran yang salah dan kurang menguntungkan menjadi benar dan lebih baik. Perubahan dilakukan dengan penuh kesadaran dan kemauan, kemudian hasilnya disosialisasikan beserta argumentasi mengapa memilih dan memutuskan seperti itu.
8.       Pengambilan keputusan berdasarkan keyakinan
Berpikir kritis digunakan untuk mengevaluasi suatu argumentasi dan kesimpulan, mencipta suatu pemikiran baru, dan alternatif solusi tindakan yang akan diambil.
Sumber : Deswani.2009. Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis.
Tanks to Kelas 1 Kelompok 3C S1 Keperawatan Stikes Muhammadiyah Banjarmasin


Definisi Perawat

Posted by Khoirul Zed | 07.11 Categories: ,
Sebelum mengetahui lebih spesifik makna atau definisi perawat ada yang disebut keperawatan, perawatan, pelayanan keperawatan dan perawat profesional.
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Beberapa definisi yang berhubungan dengan keperawatan.
a.       Perawat profesional adalah perawat yang bertanggungjawab, berwenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenangannya
b.      Menurut UU RI. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, perawat adalam mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan keperawatan.
c.       Pengertian umum perawat merupakan seseorang yang telah lulus pendidikan perawat dan memiliki kemampuan serta kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan bidang keilmuan yang dimiliki dan memberikan pelayanan pelayanan kesehatan secara holistic dan profesional untuk individu sehat maupun sakit, perawat berkewajiban memenuhi kebutuhan pasien meliputi hio-pisio-sosio dan spiritual.
d.      Keperawatan merupakan pengetahuan yang ditunjukkan untuk mengurangi kecemasan terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, perawatan dan rehabilitasi penderita sakit serta penyandang cacat.
e.       Perawatan adalah upaya membantu individu baik yang sehat maupun sakit untuk menggunakan kekuatan, keinginan dan pengetahuan yang dimilikinya sehingga individu tersebut mampu melaksanakan aktifitas sehari-hari, sembuh dari penyakit atau meninggal dunia dengan tenang. Tenaga perawat berperan menolong individu agar tidak menggantungkan diri pada bantuan orang lain dalam waktu secepat mungkin.

f.       Pelayanan keperawatan diberikan akibat adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan untuk melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari. Kegiatan dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemuihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama (PHC) sesuai dengan wewenang, tanggungjawab dan kode etik keperawatan. 

Tanks to Kelas 1 Kelompok 3C S1 Keperawatan Stikes Muhammadiyah Banjarmasin

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT

Posted by Khoirul Zed | 07.08 Categories: ,
A. Peran Perawat
Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari :
1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
2. Sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak pasien meliputi :
- Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
- Hak atas informasi tentang penyakitnya
- Hak atas privacy
- Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
- Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Sebagai educator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Sebagai koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.
5. Sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan.
6. Sebagai konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
7. Sebagai pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.




B. Fungsi Perawat
1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri & tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan untuk memenuhi KDM.
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemebrian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.
http://fifinayu.blogspot.com/2012/11/peran-dan-fungsi-perawat.html
Tnks to Kelompok 3 C Stikes Muhammadiyah